BANDAR LAMPUNG (INFO PUBLIK) – Sebuah tonggak sejarah baru bagi dunia jamu dan kesehatan tradisional Indonesia terukir di Swissbell Hotel Lampung. Minggu (07/06/2026), Dewan Jamu Indonesia resmi melantik kepengurusan perwakilan Provinsi Lampung, menjadikannya wilayah keenam setelah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Acara sakral dan penuh semangat ini dirangkai dengan gelaran talkshow bertema “Sinergi Herbal, Sains, dan Laboratorium untuk Penguatan Jamu Indonesia”, menandai babak baru pengembangan jamu yang tak lagi hanya mengandalkan tradisi, melainkan juga didasari bukti ilmiah yang kokoh.
Dipimpin langsung oleh Prof. Dr. dr. Asep Sukohar yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Pelaksana Acara, pembentukan lembaga ini dinilai sebagai jawaban strategis untuk menggali kekayaan alam dan kearifan lokal Lampung yang selama ini tersimpan potensinya. Dalam sambutannya, Prof. Asep menegaskan bahwa kehadiran Dewan Jamu Indonesia di Lampung bukan sekadar pembentukan organisasi baru, melainkan bagian dari gerakan nasional besar yang memiliki misi mulia.
“Dewan Jamu Indonesia Provinsi Lampung hadir sebagai ujung tombak gerakan nasional untuk mengangkat jamu sebagai warisan budaya tak ternilai, sumber kesehatan utama masyarakat, sekaligus mesin penggerak ekonomi daerah yang berbasis kekayaan hayati kita yang melimpah,” ujarnya tegas,
Ia menjelaskan, secara nasional Dewan Jamu Indonesia telah berdiri sejak 5 Juli 2022 sebagai wadah persatuan yang menghimpun seluruh pemangku kepentingan. Berlandaskan semangat hexa helix, organisasi ini menyatukan unsur akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, pelaku usaha, pemerintah, media, hingga komunitas pecinta tanaman obat.
“Kami membangun wadah ini terbuka seluas-luasnya. Siapa pun yang memiliki kepedulian—mulai dari perguruan tinggi, peneliti, dokter, pengusaha herbal, UMKM jamu, tokoh masyarakat, hingga unsur pemerintah—semua memiliki tempat dan peran. Sinergi inilah yang akan membangun ekosistem jamu yang kuat, terstruktur, dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” papar Prof. Asep.
Cetak Biru Kerja Nyata untuk Lampung
Tak berhenti pada wacana, kepengurusan baru ini telah menyiapkan sejumlah program prioritas yang siap dijalankan segera. Di antaranya adalah pemetaan dan inventarisasi lengkap tanaman obat unggulan khas Lampung yang selama ini belum terdata secara sistematis. Selain itu, penguatan penelitian berbasis bukti ilmiah, pengembangan edukasi, hingga konsep wisata jamu menjadi fokus utama.
Kerja sama juga akan diperluas secara masif, mulai dari kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Lampung, perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), rumah sakit, hingga menjalin jaringan dengan mitra di tingkat nasional dan internasional.
“Kami punya satu cita-cita besar: menjadikan Dewan Jamu Lampung sebagai pusat pengembangan yang berdaya saing tinggi, memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat, sekaligus melahirkan peluang ekonomi baru yang menyejahterakan rakyat bumi Ruwa Jurai,” tegasnya.
Tonggak Sejarah Menuju Pengakuan Dunia
Sementara itu, Ketua Dewan Jamu Indonesia Pusat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Daniel Tjen, Sp.S, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara bersejarah ini. Baginya, kehadiran Dewan Jamu di Lampung adalah jawaban atas tantangan zaman, terutama pasca berbagai krisis kesehatan global seperti pandemi COVID-19 yang membuka mata dunia akan pentingnya pengobatan alami.
“Momen ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan awal dari pengabdian kita bersama. Jamu bukan sekadar minuman tradisional biasa. Ia adalah warisan peradaban bangsa yang telah hidup lebih dari 3.000 tahun lamanya, terbukti dari temuan naskah kuno yang menyebutkan khasiatnya,” ungkap Prof. Daniel dengan nada bangga.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan pengembangan jamu tidak bisa parsial semata. Konsep kolaborasi yang dibangun harus melampaui sekadar kerja sama antara akademisi, pengusaha, dan pemerintah. Menurutnya, jamu memiliki makna yang jauh lebih luas sesuai definisi sehat versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)—yang mencakup kesejahteraan fisik, sosial, emosional, hingga spiritual.
“Karena itulah, kami butuh peran budayawan agar jati dirinya terjaga, butuh tokoh agama agar makna kesehatannya dipahami secara utuh, serta butuh dukungan seluruh lapisan masyarakat. Hari ini kita melantik kepengurusan baru, dan ini adalah amanah besar: menjaga, melestarikan, dan mengangkat martabat jamu agar semakin diakui secara ilmiah, diterima luas, dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia,” pesannya.
Prof. Daniel juga berharap agar kepengurusan di Lampung dapat meniru kesuksesan daerah lain dengan menjadikan Gubernur sebagai Penasehat Kehormatan, sehingga langkah-langkah strategis yang diambil selalu sejalan dengan kebijakan pembangunan daerah.
Acara puncak ini kemudian dilanjutkan dengan sesi talkshow mendalam yang mengupas bagaimana mempertemukan kearifan nenek moyang dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Melalui pendekatan berbasis laboratorium dan penelitian terukur, diharapkan jamu khas Lampung tidak hanya dicintai oleh warga lokal, tetapi juga mampu bersaing dan mengangkat nama Indonesia di kancah kesehatan dunia. (Red)
